Indonesia Perkuat Hilirisasi Timah, Cadangan Terbesar Kedua Dunia Jadi Modal Pengembangan Industri
JAKARTA — Pemerintah terus mengakselerasi pengembangan industri hilir timah nasional dengan mengarahkan pengolahan komoditas tersebut menuju produk turunan bernilai tambah tinggi, khususnya produk kimia timah. Langkah ini diharapkan dapat memperluas pemanfaatan timah di sektor manufaktur sekaligus memperkuat daya saing industri pengolahan dalam negeri.
Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Heldy Satrya Putera, menyampaikan bahwa pengembangan industri timah tidak seharusnya berhenti pada produksi bahan dasar, seperti timah solder. Menurutnya, Indonesia perlu memperluas kapasitas pengolahan hingga menghasilkan berbagai produk kimia berbasis timah yang memiliki pasar dan kebutuhan industri yang lebih beragam.
Heldy menjelaskan, produk kimia timah memiliki prospek pemanfaatan di berbagai sektor manufaktur, termasuk industri pembuatan botol dan produksi sejumlah peralatan lainnya. Pengembangan produk tersebut dinilai dapat membuka peluang pasar baru sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas timah di dalam negeri.
“Kami ingin melihat pengembangan produk kimia timah. Produk ini dibutuhkan oleh industri manufaktur botol serta berbagai peralatan lain yang menggunakan timah,” kata Heldy di sela-sela kegiatan Indonesia Multistakeholder Critical Minerals Forum 2026.
Peluang pengembangan industri hilir tersebut didukung oleh posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan sumber daya timah terbesar di dunia. Indonesia tercatat memiliki cadangan timah terbesar kedua secara global, dengan kontribusi sekitar 16,3 persen terhadap total cadangan dunia.
Besarnya cadangan tersebut menjadi modal strategis bagi pemerintah untuk membangun industri pengolahan yang lebih terintegrasi. Selain meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, pengembangan hilirisasi timah juga diharapkan dapat memperkuat pasokan bahan baku bagi industri elektronik nasional sehingga mampu meningkatkan kapasitas produksi dan bersaing di pasar internasional.
Heldy menilai, keberhasilan pengembangan hilirisasi nikel dapat menjadi referensi bagi pengembangan industri timah. Pengolahan nikel yang semakin berkembang telah mendorong terbentuknya ekosistem industri baterai kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) di Indonesia. Pemerintah berharap pendekatan serupa dapat diterapkan pada komoditas timah melalui pengembangan produk turunan dan penguatan keterkaitan antara sektor hulu dan industri manufaktur.
“Semua orang membicarakan nikel dan komoditas itu sering menjadi contoh utama. Saya berharap timah bisa mengikuti langkah yang sama,” ujarnya.
Produksi PT Timah Tumbuh pada Semester I-2026
Sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat hilirisasi, kinerja produksi timah nasional juga menunjukkan perkembangan positif. PT Timah Tbk mencatat peningkatan produksi pada semester pertama 2026, baik untuk komoditas bijih maupun logam timah olahan.
Produksi bijih timah perusahaan mencapai 12.232 ton Sn atau meningkat 75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi logam timah olahan tercatat sebesar 10.865 ton, tumbuh 58 persen secara tahunan.
Peningkatan produksi tersebut menjadi salah satu faktor pendukung bagi penguatan industri pengolahan timah. Ketersediaan bahan baku yang memadai dinilai penting untuk menopang pengembangan produk hilir, terutama apabila pemerintah ingin mendorong perluasan industri turunan yang membutuhkan pasokan timah secara berkelanjutan.
Investasi Hilirisasi Tembus Rp480 Triliun
Dari sisi investasi, pemerintah juga mencatat perkembangan positif dalam realisasi penanaman modal, termasuk pada sektor hilirisasi. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa realisasi investasi Indonesia hingga September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun atau setara US$85,04 miliar. Investasi tersebut turut menyerap sekitar 2,19 juta tenaga kerja baru.
Dari total realisasi tersebut, investasi yang masuk ke sektor hilirisasi mencapai Rp480 triliun atau sekitar US$26,52 miliar sepanjang Januari hingga September 2026. Capaian ini menunjukkan bahwa pengembangan industri pengolahan masih menjadi salah satu fokus utama dalam strategi peningkatan nilai tambah sumber daya alam nasional.
Sektor mineral menjadi penyumbang investasi hilirisasi terbesar dengan nilai Rp335,1 triliun atau setara US$18,51 miliar. Investasi tersebut mencakup sejumlah komoditas strategis, antara lain nikel, bauksit, besi dan baja, tembaga, serta pasir silika.
Selain sektor mineral, investasi hilirisasi juga berasal dari sektor perkebunan dan kehutanan yang mencapai Rp83,6 triliun atau sekitar US$4,62 miliar. Selanjutnya, sektor minyak dan gas mencatat investasi sebesar Rp54 triliun atau US$2,98 miliar, sedangkan sektor perikanan dan kelautan mencapai Rp7,3 triliun atau sekitar US$403,3 juta.
Pemerintah juga mencatat bahwa sekitar 78 persen investasi hilirisasi terealisasi di luar Pulau Jawa. Sebaran tersebut mencerminkan semakin luasnya pengembangan industri pengolahan di berbagai daerah, sekaligus membuka peluang pemerataan aktivitas ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di luar pusat-pusat industri utama.
Dengan dukungan cadangan timah yang besar, peningkatan produksi, serta realisasi investasi hilirisasi yang terus berkembang, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok industri timah global. Pengembangan produk kimia timah dan berbagai produk turunan lainnya diharapkan menjadi langkah lanjutan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat industri manufaktur nasional, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.