Panen Perdana Nanas di Kundur, PT Timah Dorong Pertanian Jadi Penggerak Ekonomi Warga
KARIMUN – Potensi pertanian di Pulau Kundur, Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau, mulai menunjukkan kontribusinya terhadap perekonomian masyarakat. Hal tersebut terlihat dari keberhasilan Kelompok Tani Bina Tani Tailong di Desa Kundur, Kecamatan Kundur Barat, yang berhasil melakukan panen perdana nanas setelah mengembangkan komoditas tersebut sejak 2025 dengan dukungan PT Timah Tbk.
Sebanyak 5.000 batang nanas dipanen dalam tahap awal tersebut. Hasil panen menjadi penanda bahwa pengembangan komoditas pertanian lokal yang dilakukan secara berkelompok dapat menghasilkan nilai ekonomi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat di sekitar wilayah budidaya.
Ketua Kelompok Tani Bina Tani Tailong, Suparno, mengatakan panen perdana tersebut menjadi momentum bagi kelompoknya untuk membuktikan hasil dari budidaya nanas yang mulai dikembangkan sejak tahun lalu.
“Dari tahun 2025 kami mulai penanaman. Sekarang kami buktikan hasilnya. Alhamdulillah, hasil panen perdana cukup memuaskan,” ujar Suparno.
Budidaya nanas tersebut dikelola oleh 10 anggota kelompok. Masing-masing anggota bertanggung jawab terhadap sekitar 5.000 batang tanaman, sehingga total tanaman yang dikembangkan mencapai kurang lebih 50.000 batang pada lahan seluas sekitar lima hektare.
Kelompok memilih varietas nanas Morris yang dinilai sesuai dengan karakteristik lahan di wilayah Kundur. Pada panen perdana, mayoritas buah yang dihasilkan memiliki bobot sekitar 1,4 hingga 1,5 kilogram. Bahkan, terdapat sejumlah buah yang mencapai bobot sekitar 2 kilogram.
Suparno menjelaskan, proses panen dilakukan secara bertahap mengikuti kemunculan buah. Pada tahap pertama, sekitar 5.000 batang menghasilkan buah yang tumbuh hampir bersamaan sehingga dapat dipanen dalam waktu yang relatif berdekatan.
“Target dan panen memang dilakukan bertahap. Kemarin kami panen sekitar 5.000 batang yang buahnya muncul hampir serempak. Hasilnya alhamdulillah cukup memuaskan,” katanya.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari proses pengembangan yang dilakukan kelompok tani secara bertahap. Bina Tani Tailong sendiri telah menjadi mitra PT Timah sejak 2023. Pada tahap awal kerja sama, kelompok memperoleh dukungan berupa mini excavator yang dimanfaatkan untuk membantu proses pengolahan dan penggemburan lahan.
Dukungan kemudian berlanjut pada 2025 ketika kelompok mulai mengembangkan budidaya nanas. Bantuan yang diberikan PT Timah digunakan untuk pengadaan bibit nanas, sementara sebagian lainnya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pupuk dan herbisida.
Menurut Suparno, dukungan tersebut membantu kelompok mengoptimalkan lahan yang sebelumnya memiliki sejumlah keterbatasan. Kondisi tanah di wilayah tersebut cenderung berpasir dan berbatu, tetapi karakteristik tersebut justru dapat dimanfaatkan untuk pengembangan tanaman nanas di Pulau Kundur.
“Alhamdulillah betul-betul menunjang perekonomian kami. Di Desa Kundur, khususnya Dusun 1 Kampung Tailong, pertanian nanas sudah menjadi salah satu sumber ekonomi masyarakat,” ujarnya.
Pertumbuhan budidaya nanas juga mulai memberikan efek terhadap masyarakat di sekitar lokasi. Keberhasilan kelompok dalam menghasilkan buah mendorong warga lainnya untuk melihat pertanian nanas sebagai salah satu alternatif kegiatan ekonomi yang memiliki prospek.
Nanas bahkan mulai menjadi salah satu komoditas yang identik dengan Pulau Kundur. Selain memenuhi permintaan masyarakat setempat, hasil produksi kelompok juga mulai dipasarkan ke luar daerah. Salah satu tujuan pemasaran yang telah dijangkau adalah Batam.
“Untuk pemasaran, kemarin nanas kami pasarkan ke Batam. Alhamdulillah, nanas segar yang kami bawa juga habis,” kata Suparno.
Perluasan pasar tersebut menjadi salah satu indikator bahwa pengembangan komoditas tidak hanya berhenti pada kemampuan menghasilkan produk pertanian. Kelompok juga mulai memikirkan strategi untuk meningkatkan nilai tambah sehingga hasil budidaya dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar.
Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengolah sebagian hasil produksi menjadi berbagai produk pangan. Bersama Kelompok Wanita Tani (KWT), Bina Tani Tailong mulai mengembangkan olahan berbahan dasar nanas, antara lain dodol nanas, wajik nanas, dan selai nanas.
Pengembangan produk turunan tersebut diharapkan dapat memperluas sumber pendapatan masyarakat sekaligus membuka peluang keterlibatan kelompok perempuan dalam rantai ekonomi komoditas nanas. Dengan demikian, manfaat budidaya tidak hanya dirasakan oleh petani yang mengelola lahan, tetapi juga dapat menjangkau masyarakat yang terlibat dalam pengolahan dan pemasaran.
Kelompok juga mulai mengembangkan konsep pemanfaatan limbah agar budidaya nanas dapat dilakukan dengan pendekatan yang lebih efisien. Kulit nanas yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah mulai diuji untuk diolah menjadi pupuk cair melalui proses fermentasi.
“Harapan kami ke depan bukan hanya buahnya yang menghasilkan. Limbah kulit nanas juga sudah kami coba fermentasikan menjadi pupuk cair. Jadi semuanya bisa dimanfaatkan,” ujar Suparno.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya kelompok untuk mengoptimalkan seluruh bagian dari komoditas nanas. Selain meningkatkan nilai ekonomi, pemanfaatan limbah juga dapat mendukung efisiensi kebutuhan input pertanian apabila pengembangannya dapat dilakukan secara konsisten.
Bagi PT Timah, pengembangan sektor pertanian masyarakat menjadi salah satu bentuk dukungan terhadap diversifikasi sumber ekonomi di wilayah sekitar operasional perusahaan. Program pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada kegiatan yang bersifat jangka pendek, tetapi juga pada pengembangan usaha produktif yang dapat tumbuh dan dikelola secara mandiri oleh masyarakat.
Keberhasilan panen perdana Bina Tani Tailong menunjukkan bahwa dukungan sarana, pengembangan kapasitas, serta pemanfaatan potensi lokal dapat menjadi modal bagi masyarakat untuk mengembangkan sektor pertanian. Terlebih, Pulau Kundur memiliki karakteristik lahan yang dapat dimanfaatkan untuk komoditas tertentu seperti nanas.
Suparno berharap kerja sama dengan PT Timah dapat terus dilanjutkan sehingga pengembangan pertanian di wilayahnya dapat dilakukan secara berkelanjutan. Menurutnya, sektor pertanian memiliki peluang besar untuk menjadi sumber pendapatan masyarakat sekaligus mendukung ketahanan pangan daerah.
“Kami tetap ingin berkolaborasi secara berkelanjutan. Apa pun ketentuan, yang penting bisa bermanfaat. Sektor pertanian cukup menjanjikan untuk mendukung ketahanan pangan daerah,” ujarnya.
Dengan hasil panen perdana yang mulai memberikan manfaat ekonomi, budidaya nanas di Kundur berpotensi berkembang dari sekadar usaha kelompok menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat. Penguatan pemasaran, pengembangan produk olahan, serta pemanfaatan limbah menjadi pupuk dapat menjadi bagian dari tahapan berikutnya untuk membangun rantai nilai nanas yang lebih luas di Pulau Kundur.