Ekspor Timah Babel Tumbuh 26,89 Persen, Harga Global Dorong Kinerja Perdagangan
PANGKALPINANG – Nilai ekspor timah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) mencatatkan pertumbuhan positif pada September 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Babel, ekspor komoditas timah mencapai US$192,48 juta atau meningkat 26,89 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang tercatat sebesar US$151,68 juta.
Secara keseluruhan, kinerja ekspor Babel pada September 2026 mencapai US$230,49 juta. Nilai tersebut tumbuh 32,50 persen dibandingkan September tahun sebelumnya. Peningkatan ini menunjukkan bahwa komoditas unggulan daerah, khususnya timah, masih memberikan kontribusi besar terhadap aktivitas perdagangan luar negeri di wilayah tersebut.
Ketua Tim Kerja Statistik Harga BPS Babel, Desiana Arbani, menyampaikan bahwa kenaikan ekspor pada September 2026 menjadi perkembangan positif bagi perekonomian daerah. Pertumbuhan tidak hanya terlihat pada komoditas timah, tetapi juga terjadi pada kelompok komoditas non-timah.
Menurut Desiana, peningkatan nilai ekspor tersebut mencerminkan membaiknya kinerja perdagangan luar negeri Babel dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini sekaligus memperlihatkan kontribusi komoditas unggulan daerah dalam menopang aktivitas ekspor.
“Untuk ekspor timah itu naik. Dan itu cukup menjadi kabar baik, karena ekspor kita, baik timah maupun non-timah, tercatat mengalami peningkatan,” ujar Desiana, Senin (2/11/2026).
Ia menjelaskan, salah satu faktor yang turut memengaruhi peningkatan nilai ekspor timah adalah perkembangan harga komoditas di pasar internasional. Kenaikan harga timah dunia memberikan dampak terhadap nilai jual komoditas tersebut, termasuk timah yang diproduksi dari wilayah Bangka Belitung.
Sebagai daerah penghasil timah, pergerakan harga di pasar global menjadi salah satu faktor yang memengaruhi nilai perdagangan komoditas tersebut. Dengan demikian, peningkatan harga internasional dapat memberikan kontribusi terhadap kenaikan nilai ekspor, meskipun kondisi produksi dan perdagangan juga menjadi bagian dari dinamika sektor pertimahan.
“Ya, mungkin itu salah satunya. Kenaikan harga timah dunia juga pasti akan berdampak pada harga timah dari kita sebagai produsen,” kata Desiana.
Pengelolaan Sumber Daya untuk Kepentingan Masyarakat
Di sisi lain, PT Timah Tbk menegaskan komitmennya untuk mendorong pemanfaatan kekayaan alam Bangka Belitung agar memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Pengelolaan sumber daya tersebut mencakup potensi yang berada di daratan maupun wilayah perairan, dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha PT Timah, Harry Budi Sidharta, mengatakan perusahaan terus berupaya membangun sinergi dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam daerah. Menurutnya, kekayaan alam yang dimiliki Babel perlu dikelola secara bertanggung jawab sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan secara luas.
Harry menegaskan bahwa penghormatan terhadap hak-hak masyarakat menjadi salah satu prinsip yang diperhatikan perusahaan, terutama bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah operasional pertambangan laut. Aktivitas perusahaan, kata dia, harus tetap mempertimbangkan kepentingan masyarakat sebagai bagian penting dalam pengelolaan sumber daya alam.
Ia juga menyampaikan bahwa prinsip pengelolaan tersebut berlandaskan Pasal 33 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
“Pada prinsipnya, kami PT Timah selalu menghargai dan mengangkat tinggi hak-hak masyarakat, terutama di kawasan tambang laut kami. Kami juga memandang operasional ini dari Pasal 33 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 sebagai dasar bahwa seluruh kekayaan diutamakan untuk kepentingan negara serta masyarakat,” ujarnya.
Pertambangan dan Perikanan Perlu Berjalan Seimbang
Harry menilai Bangka Belitung memiliki potensi sumber daya alam yang beragam. Selain dikenal sebagai salah satu daerah penghasil timah, wilayah ini juga memiliki kekayaan laut dan hasil perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir. Potensi tersebut merupakan anugerah alam yang perlu dikelola dengan memperhatikan keseimbangan antara kegiatan ekonomi, kepentingan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
Dalam konteks pemanfaatan wilayah laut, PT Timah memandang pentingnya keseimbangan antara zona pertambangan dan zona perikanan tangkap. Pengelolaan kedua aktivitas tersebut perlu memperhatikan karakteristik wilayah serta keberadaan masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sumber daya laut.
Harry menjelaskan bahwa perusahaan menjalankan kegiatan pertambangan dengan memperhatikan seluruh tahapan, mulai dari kondisi sebelum penambangan, selama proses penambangan, hingga setelah kegiatan pertambangan selesai. Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan aktivitas pertambangan tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga memperhatikan pemulihan kondisi lingkungan.
Ia menambahkan, setiap kegiatan penambangan perlu disertai perencanaan reklamasi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap wilayah yang dimanfaatkan. Khusus untuk pertambangan di laut, rencana pengembalian kondisi lingkungan menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam pelaksanaan kegiatan operasional.
“Jadi terkait dengan zona tambang, zona perikanan tangkap, dan sebagainya, dari sudut pandang kami, PT Timah selalu menjalankan pertambangan dengan mengedepankan keseimbangan antara sebelum tambang, proses tambang, dan pascatambang. Kapan pun menambang, selalu ada rencana untuk pengembalian kondisi di laut melalui rencana reklamasi,” katanya.
Peningkatan ekspor timah Babel pada September 2026 menjadi salah satu indikator positif bagi perdagangan luar negeri daerah. Namun, optimalisasi potensi komoditas unggulan tersebut juga perlu diiringi dengan pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab, penghormatan terhadap hak masyarakat, serta perhatian terhadap keberlanjutan lingkungan.
Dengan demikian, sektor pertambangan dan potensi kelautan di Bangka Belitung diharapkan dapat memberikan kontribusi ekonomi secara berkelanjutan. Pengelolaan yang memperhatikan kepentingan negara, masyarakat, dan lingkungan menjadi faktor penting agar kekayaan alam daerah dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.